Kritik the Tipping Point

February 21st, 2010

Sebagai alternatif dari marketing yang menggunakan media massa yang harganya mahal, word-of-mouth marketing menawarkan janji indah: pesan dapat menyebar dengan sendirinya seperti epidemik  asal kita tahu bagaimana membuat pesan dan memilih  orang yang tepat untuk memulainya. Orang yang dianggap mampu membuat epidemik sosial ini biasa disebut influencers. Tantangannya tinggal bagaimana menemukan para influencers ini. Pandangan ini menjadi populer setelah Malcolm Gladwell menulis buku The Tipping Point yang laris di seluruh dunia.

Selanjutnya, teori influencers ini dikritisi oleh beberapa ilmuwan – diantaranya Duncan Watts (DW) yang sebelumnya profesor sosiologi di Columbia Univ. dan sekarang memimpin grup riset sosial di Yahoo! -  setelah mereka melakukan beberapa studi eksperimen dan simulasi.

Read the rest of this entry »

Google Buzz: Sosiologi Media Sosial

February 19th, 2010

Sekarang ini semakin sering kita menghabiskan waktu di media sosial seperti facebook dan twitter, dan salah satu konsekuensinya adalah semakin berkurangnya privasi kita. “Privacy is dead” sudah sering terdengar. Saya sendiri cenderung setuju karena informasi privat di media sosial diberikan secara sukarela oleh penggunanya; jadi sepertinya memang telah terbentuk norma sosial baru dimana orang biasa “berteriak” ketika berbicara satu sama lain. Contohnya adalah ucapan selamat ulang tahun. Biasanya kita mengucapkan selamat ulang tahun sambil bersalaman langsung dengan orang yang berulang tahun. Tetapi kita sekarang menuliskan ucapan selamat di wall facebook atau di twitter, yang sebetulnya serupa dengan datang ke mesjid terdekat di mana teman kita tinggal dan mengucapkan selamat ulang tahun menggunakan pengeras suara mesjid dengan volume maksimum: semua orang di sekitar akan mendengar pesan itu.

Tetapi kemunculan Google Buzz yang menimbulkan kontroversi cukup ramai membuat saya berpikir bahwa konsep privasi yang diperdebatkan selama ini lebih disebabkan karena para penyedia jasa media sosial (misalnya Google dan facebook) tidak mengerti satu konsep dasar sosiologi yaitu identitas.

Read the rest of this entry »

Situs Jejaring Sosial atau Situs Nongkrong?

March 30th, 2009

Jika anda tanyakan bagaimana menyelesaikan sebuah masalah sosial ke ekonom, maka kemungkinan besar dia akan menganjurkan mekanisme pasar: sebarkan informasi secara merata, biarkan setiap orang bertindak bebas dan lalu tonton bagaimana kompetisi bebas akan menghasilkan solusi yang optimal dan efisien.
Read the rest of this entry »

“Swing Voters” dan Jejaring Sosial

March 21st, 2009

Hasil survey terakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa Presiden Yudhoyono adalah kandidat presiden paling populer dengan popularitas melebihi 50%. Meskipun demikian, bukan berarti Presiden Yudhoyono dapat berleha-leha dan calon presiden lain tidak berpeluang lagi. Ini karena perilaku pemilih di negara-negara yang baru berdemokrasi sangat mudah berubah. Read the rest of this entry »


Switch to our mobile site